Paradigma Profetik sebagai Dasar Pendidikan Karakter

Wakil Dekan 1 FKIP Unikal, M. Fajru Sidqi, S.Pd., M.Hum.

Wakil Dekan 1 FKIP Unikal, M. Fajru Sidqi, S.Pd., M.Hum.

Warta Kampus, Jumat (27 Juni 2014)__Di tengah-tengah maraknya diskusi mengenai pendidikan karakter, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pekalongan mencoba membuat sebuah langkah strategis di dalam menjawab berbagai persoalan yang melingkupi dunia pendidikan. Salah satu tawaran yang disuarakan FKIP Unikal adalah dengan mengusung gagasan profetik sebagai paradigma pendidikan. Hal ini dikemukakan oleh Wakil Dekan I Bidang Akademik FKIP Unikal, M. Fajru Sidqi, S.Pd., M.Hum saat ditemui di kantornya beberapa waktu lalu.

Menurutnya, paradigma profetik, terutama yang digagas oleh Kuntowijoyo memiliki parameter yang cukup jelas di dalam upaya untuk mengimbangi desakan globalisasi. Hal ini dikarenakan konsep yang diusung oleh Kuntowijoyo memiliki kecocokan terhadap demografi masyarakat.

“Masyarakat kita, lebih-lebih masyarakat Pekalongan, merupakan masyarakat yang sangat religius. Sejak dulu sudah terbiasa dengan ungkapan-ungkapan yang bernapaskan keagamaan. Sehingga sudah bukan waktunya lagi bagi masyarakat kita saat ini memisahkan antara lajur agama dengan lajur keduniaan. Agama sebagai ajaran, jika kita mau membacanya dengan cermat, sebenarnya tidak memisahkan antara kepentingan duniawi dengan kepentingan akhirat. Keduanya sama-sama diajarkan,” ungkap Fajru.

Lebih lanjut, Fajru mengungkapkan, lewat tiga pokok dasar paradigma profetik yang digagas Kuntowijoyo, yakni humanisasi, liberasi, dan transendensi, arah pendidikan akan jauh lebih matang sebagai wahana untuk membentuk pribadi. Pendidikan tidak lagi hanya berkutat pada urusan kebendaan (duniawi) melainkan masuk pula pada ranah bagaimana setiap anggota masyarakat mampu mengimplementasikan dan mengaktualisasikan ajaran-ajaran agama itu ke dalam kehidupan sehari-hari.

“Tujuan pendidikan semestinya dikembalikan pada rel-nya. Ukuran-ukuran standarnya juga perlu dievaluasi kembali. Apakah dengan berbagai perangkat yang sudah ada, pendidikan yang dilaksanakan itu sudah mampu menjawab persoalan bangsa ini? Sudah tentu, dibutuhkan riset untuk menjawab persoalan tersebut. Untuk itu, di dalam mengembangkan dunia pendidikan, khususnya mendorong kiprah FKIP Unikal ke depan, kami berkomitmen untuk mengusung tema paradigma profetik ini sebagai bagian di dalam setiap riset yang dilakukan oleh kalangan civitas akademika Unikal,” jelasnya.

Pihaknya juga berkeyakinan bahwa melalui riset dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan, akan mampu memberikan warna baru bagi dunia pendidikan. Apalagi dengan mengusung local wisdom sebagai upaya untuk mendekati pemahaman paradigma profetik yang diusung oleh FKIP Unikal.

“Ya, dengan kekayaan khazanah lokal kita akan menjadi tahu karakter apa yang sesungguhnya dimiliki oleh bangsa ini. Dan kekayaan khazanah lokal inilah yang semestinya terus digali agar dapat memunculkan wacana-wacana kebaruan mengenai jati diri bangsa. Bukan sekadar menyalin dan memindahkan salinan dari Barat untuk diterapkan ke dalam bangsa ini. Inilah yang saya kira perlu dikoreksi. Dalam ungkapan filsafat Jawa kita kenal Jawa digawa, Arab digarap, Barat diruwat,” pungkasnya.